Selasa, 26 April 2016

Mendag: Ekspor Produk Kayu Indonesia Langsung Masuk Jalur Hijau di Eropa

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 26 Apr 2016 ; 6824 Views

Menteri Perdagangan Thomas Lembong
Menteri Perdagangan Thomas Lembong
Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong mengemukakan, kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Kantor Uni Eropa, di Brussels, Belgia, pekan lalu, mendapat kejutan yang sangat positif. “Tahap perundingan CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang namanya scoping ternyata bisa selesai pada saat Pak Presiden berkunjung di Brussel, ini suatu kejutan yang luar biasa,” kata Mendag kepada wartawan usai Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (25/4) petang.
Mendag menuturkan, sebetulnya scoping ini sudah dimulai antara Indonesia dengan Uni Eropa di tahun 2010, dan dalam 4 tahun tidak selesai-selesai. Namun,  berkat kepemimpinan yang luar biasa dari Presiden Jokowi dan Wakil Presiden, dukungan yang luar biasa dari para Menko, scoping CEPA Indonesia-Uni Eropa itu bisa selesai dalam 4 bulan.
“Pihak Uni Eropa juga sangat terkejut, tapi menanggapi dengan sangat antusias, sangat positif. Ini saya pribadi merasa merupakan sebuah perkembangan, bahkan boleh dibilang sedikit  historis,” ungkap Mendag.
Terkait pada kerja sama vokasi kejuruan, Mendag menjelaskan, proses negosiasi CEPA Indonesia-Uni Eropa ini diperkirakan  akan butuh waktu 2-2,5 tahun. Namun ia meyakinkan, bahwa kedua belah pihak mengharapkanquickwin, yaitu kerja sama di bidang kejuruan. “Jadi sudah diputuskan akan segera dilakukan rakor-rakor gabungan para Menko, khususnya Menko Ekonomi dan Menko PMK untuk mengkonkretkan akademi-akademi, lembaga-lembaga pelatihan, sistem-sistem sertifikasi untuk kejuruan,” papar Mendag.
SertifikasiDalam kesempatan itu Mendag Thomas Lembong juga menyampaikan, selain itu pihak Uni Eropa menyambut sangat antusias langkah pemerintah Indonesia memberlakukan sistem SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu), yang diberlakukan sebelum berangkat.
“Ini adalah yang pertama di dunia, pertama untuk di Uni Eropa dan mereka menyambut dengan antusias dengan SVLK ini. Ekspor produk kayu kita ke Uni Eropa bisa langsung masuk jalur hijau, tidak lagi melalui proses inspeksi kontainer, dan lain sebagainya,” papar Mendag.
Sementara terkait sawit, menurut Mendag, Jerman, Inggris, Belanda,  maupun Uni Eropa menyambut baik ajakan pemerintah RI untuk berkoordinasi dan bekerja sama melawan kampanye hitam atau diskriminatif terhadap ekspor kita di bidang sawit.
“Kami melaporkan kemajuan-kemajuan dalam bidang lingkungan hidup, pelestarian gambut, dan pihak Uni Eropa menyambut sangat gembira wacana yang dilontarkan Pak Presiden sebelum berangkat ke Uni Eropa yaitu moratorium sawit,” jelas Mendag seraya menegaskan, ada cukup banyak kemajuan yang cukup menggembirakan dalam dialog antara Indonesia dengan pihak Uni Eropa soal perdagangan sawit itu. (DID/FID/ES)
http://setkab.go.id/mendag-ekspor-produk-kayu-indonesia-langsung-masuk-jalur-hijau-di-eropa/

Turki Ingin Kembalikan Islam sebagai Konstitusi

Turki Ingin Kembalikan Islam sebagai Konstitusi

Ajaran sekularisme harus dihilangkan dari Turki.

VIVA.co.id – Usulan untuk kembali melakukan amandemen konstitusi Turki mulai menguat. Parlemen Turki yang didominasi kader Partai Keadilan dan Pembangunan mengatakan, Turki membutuhkan konstitusi agama.
Ketua  parlemen Turki mengatakan, Turki saat ini membutuhkan sebuah konstitusi agama, dan ajaran sekularisme harus dihilangkan dari Turki. Development Party (Partai Keadilan dan Pembangunan/Partai AK) mendorong negara untuk mengganti konstitusi yang telah ada setelah kudeta militer tahun 1980.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menginginkan sebuah kepresidenan yang efektif untuk menggantikan sistem parlementer saat ini. "Untuk satu hal, konstitusi baru tidak harus memiliki sekularisme. Dibutuhkan diskusi mengenai agama, harus religius. Konstitusi yang baru ini harus merupakan konstitusi agama," kata Ketua Parlemen, Ismail Kahraman seperti dikutip dari laman Reuters,Selasa, 26 April 2016.
Partai AK  memegang 317 dari 550 kursi di parlemen.Jika ingin mengajukan referendum bagi draf konstitusi, maka mereka  membutuhkan 330 suara. Artinya, partai tersebut harus mampu melobi anggota parlemen dari partai yang berbeda.
Sementara itu, Ketua partai oposisi Partai Republik Rakyat (CHP), Kemal Kilicdaroglu, melalui akun Twitter pribadinya mengatakan, bahwa sekularisme  adalah prinsip utama bagi perdamaian sosial. Sekularisme, tulis dia, ada untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki kebebasan beragama.
Turki yang merupakan anggota NATO, bercita-cita untuk bergabung dengan Uni Eropa, dimana mereka menggambarkan Turki sebagai negara sekuler, demokratis dan dengan mayoritas penduduk Muslim. Kahraman mengatakan karakter itu sudah merupakan sesuatu yang religius karena menyatakan hari raya agama Islam sebagai hari libur.
Empat tahun lalu Turki telah mengubah konstitusi asli tahun 1924 milik negara tersebut.Amandemen ini dianggap sebagai cara untuk menjatuhkan Islam yang sebelumnya dianggap sebagai agama resmi negara. Para sejarawan melihat hal ini dengan sudut pandang modern, demokratik dan sekuler yang dianut Turki. Konstitusi yang ada saat ini tidak mempromosikan agama apapun sebagai agama resmi Turki.
Turki adalah negara Muslim Sunni, tetapi seperlima dari 78 juta penduduk Turki adalah pemeluk Syiah, Sufi dan tradisi rakyat Anatolia. Turki juga merupakan rumah bagi sekitar 100.000 orang Kristen dan 17.000 orang Yahudi.
Para kritikus mengaku khawatir kebijakan yang baru nantinya akan berkonsentrasi penuh di kekuasaan tangan Presiden Tayyip Erdogan dan menjalankan ajaran Islam menurut keyakinan Erdogan dan partainya.
(mus)