Minggu, 20 Maret 2016

Alur Pendidikan, Fondasi Sukses Pekerja Berkualitas

ki-ka: COO Sampoerna School System Dr. Marshall E. Schott, pemandu acara, psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya alur pendidikan bagi kesuksesan generasi muda di masa datang pada diskusi pendidikan Think Beyond the School di Jakarta.

ki-ka: COO Sampoerna School System Dr. Marshall E. Schott, pemandu acara Sasha Lauder, psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya alur pendidikan bagi kesuksesan generasi muda di masa datang pada diskusi pendidikan Think Beyond the School di Jakarta.
Bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia, kamu pasti sudah tahu. Tapi tahu tidak kalau 14 tahun lagi, yakni tahun 2030, dalam laporan yang dirilis September 2012 McKinsey Global Institute memprediksi Indonesia menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia, mengalahkan Inggris dan Jerman?
Cuma agar prediksi itu menjadi kenyataan, banyak yang harus dilakukan. Antara lain Indonesia perlu menyiapkan 113 juta tenaga kerja yang kompeten, terampil dan ahli di bidangnya. Untuk yang satu ini, kuncinya terletak pada pendidikan yang berkualitas. Pendidikan berkualitas menjadi fondasi agar generasi muda kita bisa menang bersaing dari rekan-rekannya yang berasal dari ASEAN maupun belahan dunia lain.
Namun ada fakta menyedihkan terungkap dalam diskusi pendidikan Think Beyond the School di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam bidang pendidikan, Nenny Soemawinata (Chief Executive Officer, Putera Sampoerna Foundation) menyebutkan Indonesia duduk di peringkat 69 dari 71 negara. Posisi Indonesia kalah jauh dibandingkan Vietnam yang duduk di peringkat 12. 

Nenny Soemawinata (CEO, Putera Sampoerna Foundation), “Ketika memilih sekolah, perlu cermat juga alur pendidikan secara menyeluruh.”

Nenny Soemawinata (CEO, Putera Sampoerna Foundation), “Ketika memilih sekolah, perlu cermat juga alur pendidikan secara menyeluruh.”
Nah kalau begitu pendidikan seperti apa yang harus diberikan kepada generasi muda,termasuk anak-anak kita, agar mereka tidak kalah bersaing di masa depan? Cukupkah memilih sekolah yang berkualitas, unggulan, nasional? “Ketika memilih sekolah, perlu cermati juga alur pendidikan secara menyeluruh,” kata Nenny.
Apa sih maksudnya? Alur pendidikan, jelas Nenny, bukan melulu tentang kurikulum, silabus atau proses belajar mengajar. Alur pendidikan adalah rangkaian alur pendidikan yang dibangun secara holistik, yang menjamin adanya pendidikan berkualitas secara konsisten dan berkesinambungan mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
Di Indonesia sendiri, ada empat sistem pendidikan: sistem nasional Indonesia, sistem UK-Cambridge, sistem Eropa – International Baccaulaureate, dan sistem Amerika. Masing-masing punya kekuatan dan kelemahan.
Sistem nasional Indonesia misalnya, menerapkan wajib belajar 9 tahun: 6 tahun pendidikan dasar dan 3 tahun pendidikan menengah pertama. Sistem ini  menitikberatkan pada hafalan dan pengulangan. Belakangan, ada sekolah yang menambahkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Sementara itu sistem Amerika fokus pada keterampilan praktis dan kemampuan memecahkan masalah. Sedangkan sistem Eropa – International Baccalaureate mendorong penguasaan materi yang seimbang dan antar-ilmu, dan sistem Britania Raya – Cambridge menyediakan kualifikasi berjenjang.
Jadi mana yang terbaik untuk Indonesia? Menurut Chief Operationg Officer Sampoerna School System Dr. Marshall E. Schott, solusinya bisa merupakan kombinasi: sistem pendidikan berstandar kualitas pendidikan internasional tetapi terintegrasi dengan kurikulum nasional. Paduan sistem Amerika dengan sistem Nasional Indonesia, sebut Schott, bisa melahirkan lulusan dengan kompetensi analisis dan cara berpikir kreatif, juga kompetitif secara global.
Schott mencontohkan pendekatan pembelajaran Sampoerna Schools System yang  berfokus pada science, technology, engineering, art, dan math (STEAM) dan menggunakan kurikulum internasional dalam bahasa Inggris. Lulusan sistem Sampoerna Schools System yang diterapkan dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, klaim Schott, memiliki kompetensi analisa dan cara berpikir kreatif. Mereka juga selalu ingin tahu dan ingin belajar. STEAM sendiri, menurut U.S, National Science Foundation, akan menjadi tuntutan dalam 80% pekerjaan masa depan di seluruh dunia.
Psikolog Ratih Ibrahim menegaskan, untuk memastikan prestasi dan menjamin kesukesan anak kelak, orang tua memang tidak hanya perlu melakukan perencanaan alur pendidikan yang tepat, tapi juga jeli mengidentifikasi potensi anak. “Salah satu yang utama adalah memilih pendidikan berkualitas yang mampu mengakomodasi kemampuan dan bakat anak dan paling sesuai dengan karakteristik dan daya kembang setiap anak,” tegasnya. Ia menyarankan, perencanaan sekolah dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sebelum sang anak dilahirkan.  
Namun Ratih juga mengingatkan agar sukses kelak, generasi muda kita juga perlu luwes bergaul, menguasai bahasa asing, serta punya empati dan sopan santun. 

http://www.pcplus.co.id/2016/03/fitur/37134/

Tidak ada komentar:
Write komentar