Jumat, 25 Maret 2016

Pulau Tidore Titik Pembenaran Teori Ilmu Pengetahuan



Pulau Tidore 

Pulau Tidore dengan kerajaannya,  mencapai puncak keemasan di zaman kekuasaan Sultan Nuku. Sejarah panjang tentang kesultanan ini sedikit banyak sudah diketahui berbagai kalangan umum. Namun, tahukah kita ternyata pulau ini memiliki sejarah penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjadi titik pembenaran ilmu pengetahuan. 

Hal ini diungkap sejarawan Maluku Utara,  Nani Jafar.Dosen Jurusan Sejarah Universitas  Khairun Ternate itu menjelaskan, teori bumi ini bulat (geosentris), pertama kali digagas Galileo-Galilei, ilmuwan terkenal Eropa pada abad pertengahan. Teori ini kemudian dikembangkan dan disebarluaskan oleh Copernicus beberapa tahun kemudian setelah meninggalnya Galileo-Galilei. Meskipun Copernicus dianggap orang pertama yang berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya teori pada ilmu geografi. Namun ia secara mengenaskan dihukum mati oleh pihak Gereja Katolik Roma karena dianggap gagasannya bertentangan dengan pemikiran Gereja Katolik Roma yang mengatakan bahwa bumi ini datar dan bentuknya persegi empat (heliosentris).

Polemik antara pemikiran ilmu pengetahuan yang diwakili oleh Copernicus dan pemikiran dogmatik yang dihembuskan pihak Gereja Katolik Roma, mendorong Kerajaan Spanyol (ketika itu masih berafiliasi dengan Portugis) mengutus Magellan untuk membuktikan kebenaran dua pemikiran yang sedang dipolemikkan itu. Ekspedisi Magellan pun mulai dilakukan, namun sayangnya ia tidak sempat mencapai Maluku (Tidore). Juan Antonio de Elcano (seorang sejarawan sekaligus navigator dalam pelayaran itu) lah yang melanjutkan ekspedisi itu hingga mencapai Pulau Tidore pada tahun 1521. “Dan, titik yang menguak kebenaran pemikiran Copernicus itu ternyata terletak di Pulau Tidore  setelah de Elcano dengan kapal Trinidad dan Victoria berlabuh di pantai barat Pulau Tidore pada tahun itu,” jelasnya.

Demikianlah, kesimpulan Galileo-Galilei dan Copernikus bahwa bumi ini bulat, bukan persegi empat sebagaimana yang diajukan pihak Gereja Katolik Roma.  Delapan tahun setelah pendaratan de Elcano di Tidore, Spanyol membangun bentengnya di pantai barat Pulau Tidore untuk mengenang lokasi tersebut sebagai tempat bersejarah dan penanda bagi kemajuan ilmu pengetahuan Kerajaan Spanyol. Kini, situs benteng peninggalan Spanyol itu berada di antara Kelurahan Mareku dan Kelurahan Ome, di Pulau Tidore.

Karena hal ini maka menurutnya sangatlah arif, jika di lokasi itu Pemerintah Kota Tidore Kepulauan membangun tugu/patung Magellan dalam rangka mengenang ekspedisi Magellan di masa lalu dan antusiasme masyarakat di Pulau Tidore untuk menyambut baik pertemuan internasional ke-VII di Tidore terkait dengan “Jaringan Global Kota-Kota Magellan 2017”, yang diikuti oleh negara-negara seperti; Spanyol, Portugis, Argentina, Chile, Philipina, dan Indonesia (Tidore) sebagai tuan rumah dalam pertemuan itu.

Ada beberapa usulan turut disampaikan Nani, yakni:  pembuatan atau pembangunan tugu patung Magellan dimulai awal 2016 dengan lokasinya di situs benteng Spanyol, yang peresmiannya dilakukan oleh para delegasi negara anggota pertemuan dengan dibubuhi tandatangan mereka masing-masing pada prasasti yang akan ditempel di patung Magellan.

Dalam prasasti itu selain menulis kalimat: “Pertemuan Internasional Jaringan Global Kota-Kota Magellan 2017 di Tidore-Indonesia” dalam  tiga bahasa (Indonesia, Inggris, Latin), juga memuat nama-nama delegasi yang mewakili kota atau negaranya masing-masing. “Agenda yang menjadi perhatian untuk dibahas dalam pertemuan itu adalah kerjasama dalam bentuk MoU (Memorandum of Understanding) antar sesama negara anggota terkait dengan pengembangan bidang wisata sejarah, budaya, tradisi, dan ekonomi,” imbaunya.

Dia turut mengusulkan Sultan Tidore dan Wali Kota agar Tidore Kepulauan ditetapkan sebagai anggota delegasi mewakili Indonesia (Tidore) dalam pertemuan tersebut Termasuk keikutsertaan secara tetap (permanen).  Sultan Tidore dan Wali Kota Tidore Kepulauan ditetapkan sebagai wakil Indonesia pada periode pertemuan ke-VIII dan seterusnya. Hal ini menurutnya perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah Tidore Kepulauan.

http://kabarpulau.com/2015-06-30-17-12-58/kabar-kota-pulau/item/287-pulau-tidore-titik-pembenaran-teori-ilmu-pengetahuan


Tidak ada komentar:
Write komentar